Tuesday, 16 September 2014

Tidak berharga dan tidak bernilai

Eps : tidak berharga dan tidak bernilai

       Suatu hari seorang sahabat bertanya kepada syaikh juha. “wahai syaikh juha, engkau dikenal sebagai orang bijak. Sekarang dapatkah engkau mengatakan pada kami, di dunia ini apa yang engkau anggap paling berharga?
       “nasehat” jawab syaikh juha
       Temannya berfikir sesaat dan melanjutkan pertanyaannya, “jika begitu apa yang engkau anggap paling tidak bernilai?”
       “nasihat” jawab syaikh juha lagi
       Para pendengarnya nampak tidak puas.”bagaimana sesuatu menjadi sangat berharga dan dan jga tidak bernilai? Engkau pasti membuat kesalahan,” protes mereka
       “tidak temanku. Aku tahu apa yang aku katakan. Suatu nasehat yang dijalankan akan enjadi sesuatu yang berharga, tetapi jika tidak dilaksanakan, tidak akan bernilai sama sekali.”

Eps : kebijaksanaan Tuhan
       Suatu siang yang panas. Syaikh juha sedang duduk beristirahat di bawah pohon kenari. Di sana ia melihat buah abu yang besar hidup pada tanaman rambat. Ia juga melihat buah kenari tumbuh di atas pohon yang besar.
       “terkadang Aku tidak memahami penciptaan tuhan ! buah kenari yang begitu kecil tumbuh di pohon yang besar, dan labu yang begitu besar tumbuh di atas tanaman yang kecil.”
       Saat itu sebuah kenari lepas dari tangkainya dan jatuh di atas kepala Syaikh juha. Dia terbangun, menengadahkan tangan dan berkata, “wahai Tuhan ku! Ampunilah Aku yang mempertanyakan cara Mu. Engkau sungguh bijaksana. Apa jadi nya diriku, jika labu itu yang jatuh diatas kepalaku.

Eps : Mereka yang tahu dan mereka yang tidak tahu
       Suatu hari Syaikh juha diminta untuk menjadi khatib jum’at, Biasanya ia tidak pernah bersedia jika diminta menjadi khatib, tetapi karena hari itu ia dipaksa, akhirnya berangkat juga.
       Setelah berada di atas mimbar, “saudara saudara, apakah saudara saudara tahu apa yang saya akan bicarakan?”
       Hadirin serempak menjawab “Tidak, kami tidak tahu apa yang akan tuan sampaikan.”
       Mendengar jawaban jemaah, syaikh juha tersenyum dan berkata, “jika demikian, untuk apa saya berbicara pada orang orang yang belum tahu.” Lalu ia turun dari mimbar dan pulang.
       Jum’at berikutnya. Ia kembali di minta menjadi Khatib. Di atas mimbar ia mengulangi kembali pertanyaan minggu lalu, “apakah saudara saudara sudah tau apa yang saya utarakan?”Jamaah yang sudah belajar dari pengalaman sebelunya menjawab “ Sudah, kami sudah mengetahu apa yang hendak tuan sampaikan,”
       Lagi lagi Syaih juha tersenyum dan berkata, “Jika demikan, buat apa saya berbicara kepada orang yang sudah tahu?” lalu ia turun kembali.
       Pada Jum’at ketiga, dia kembai diatas mimbar dan menanyakan hal yang sama. “apakah saudar saudaraa sudah mengetahui apa yang hndak saya samapaikan?
       Hadirin sekarang sudah menjadi lebih cerdik, sebagian dari mereka menjawab< “ kami sudah tahu” sedang sebagian yang lain menjawab “Belum, kami belum mengetahui” mereka berharap dengan jawaban itu Syaikh juha akan berkhubah.
       Tetapi dengan tersenyum Syaikh juha berkata “Nah jika demikian, mak sebaiknya yang sudah tahu memveri tahu kepada yang sudah tah, dan yang beu tahu, belajar lah pada orang orang yang ebih tahu.